Pilih produk yang ingin anda beli. Klik Detail, lalu klik tombol Add to Cart
Klik tombol View Your Cart yang ada di atas halaman (header) sehingga muncul pop up keranjang belanja. Klik tombol Check Out With
Isikan alamat tujuan pengiriman, kemudian klik tombol Terapkan untuk menampilkan opsi layanan pengiriman yang diinginkan. Pilih salah satu layanan pengiriman. Kemudian Isi detail pengeriman seperti nama, nomor telpon dan lain-lain.
Kirim bukti transfer di halaman Konfirmasi Transfer. Bukti transfer berformat gambar dan tidak lebih dari 100MB
Untuk melihat status pesananmu, bisa melalui email atau ke halaman Cek Status Pesananku
| Kategori Buku | : Antologi Puisi |
| Penulis | : Ning |
| Jumlah Halaman | : 137 halaman |
| Dimensi | : 14 x 20 cm |
| ISBN | : Proses |
| E-ISBN | : Proses |
| Tahun Terbit | : 2026 |
| Editor | : Tsanaa Mahara Haq, S.Hum. |
| Desain & Penata Letak | : Meditation Art |
Kumpulan Puisi tentang Rindu yang Tumbuh dalam Diam
Embun, Hujan, dan Cara Cinta Bertahan adalah kumpulan puisi yang mengajak pembaca berjalan menyusuri
lorong-lorong rindu, kehilangan, kesetiaan, dan keikhlasan. Di dalamnya, langit
menjadi tempat menyimpan doa, laut menjadi rumah bagi kerinduan, hujan menjadi
bahasa yang tak sempat diucapkan, dan secangkir kopi menjadi saksi percakapan
yang sederhana namun menghangatkan jiwa.
Setiap bait lahir dari pengalaman manusia
yang paling dekat dengan kehidupan; mencintai tanpa syarat, menunggu tanpa
kepastian, menerima tanpa banyak bertanya, dan belajar melepaskan tanpa
benar-benar kehilangan. Melalui metafora embun, rembulan, akar, ombak, angin,
dan fajar, puisi-puisi dalam buku ini menghadirkan keheningan yang justru
berbicara paling lantang.
Buku ini tidak hanya bercerita tentang
cinta antara dua insan, tetapi juga tentang cinta kepada keluarga, kepada
kehidupan, kepada diri sendiri, dan kepada Sang Pencipta—tentang keyakinan
bahwa setiap luka memiliki musim untuk sembuh, setiap rindu memiliki jalan
pulang, dan setiap air mata akan menemukan maknanya di hadapan waktu.
Bagi siapa pun yang pernah menunggu
seseorang dalam diam, kehilangan tanpa sempat berpamitan, atau menyimpan doa di
balik senyum yang sederhana, halaman-halaman ini mungkin akan terasa seperti
cermin yang memantulkan kisah sendiri.
Karena pada akhirnya, cinta yang paling
kuat bukanlah yang paling riuh diperjuangkan, melainkan yang tetap bertahan
seperti embun di pagi hari—lembut, setia, dan selalu kembali meski matahari
berkali-kali menghapusnya.
Keyword : Embun,, Hujan,, dan, Cara, Cinta, Bertahan, jejakpublisher, jejak publisher, jejak, publisher, Embun, Hujan, dan Cara Cinta Bertahan, Embun, Hujan, dan Cara Cinta Bertahan jejak publisher, Embun, Hujan, dan Cara Cinta Bertahan jejakpublisher